Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 Join Technorati

From Wikipedia, the free encyclopedia

Technorati is an Internet search engine for searching blogs, competing with Google and Yahoo. As of June 2008, Technorati indexes 112.8 million blogs and over 250 million pieces of tagged social media. The name Technorati is a portmanteau, pointing to the technological version of literati, or intellectuals.

Technorati was founded by Dave Sifry and its headquarters are in San Francisco, California, USA. Tantek Çelik was the site's Chief Technologist.

Technorati uses and contributes to open source software. Technorati has an active software developer community, many of them from open-source culture. Sifry is a major open-source advocate, and was a founder of LinuxCare and later of Wi-Fi access point software developer Sputnik. Technorati includes a public developer's wiki, where developers and contributors collaborate, as well as various open APIs.

The site won the SXSW 2006 awards for Best Technical Achievement and also Best of Show. It was also nominated for a 2006 Webby award for Best Practices, but lost to Flickr and Google Maps.

Kekerasan di Hutan: Pengelolaan Kawasan Konservasi Indonesia

From http://www.walhi.or.id/

Indonesia yang memiliki Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Perlindungan Alam seluas 23.214.626,57 hektar, dimana sebagian besarnya merupakan Taman Nasional. Konsep pengelolaan Taman Nasional sangat sentralistik dan kerap mengabaikan keberadaan masyarakat adat/lokal yang justru telah hidup di kawasan-kawasan tersebut secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. Hal inilah yang menjadi titik terjadinya konflik kepentingan antara kepentingan konservasi dan kepentingan rakyat.

Untuk pengelolaan hutan konservasi, seperti taman nasional, cagar alam, taman buru, hutan wisata dan hutan lindung, dilakukan pengelolaan oleh pemerintah melalui unit pelaksana teknis sebagai perwakilan pemerintah di lapangan. Sebagian lokasi kawasan konservasi juga dikelola bersama dengan lembaga konservasi internasional. Hingga saat ini pengelolaan hutan konservasi masih sangat jauh dari sisi pengelolaan hutan oleh rakyat, karena pengertian konservasi sebagai kawasan yang ‘steril’ dari masyarakat masih menjadi pegangan pemerintah dalam pengelolaan hutan. Hal tersebut mengakibatkan seringnya terjadi konflik antara rakyat dengan pengelola kawasan, misalnya di Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Lore Lindu, Taman Nasional Rawa Aopa Watumoai, Taman Nasional Gunung Halimun, dan beberapa kawasan konservasi lainnya di Indonesia.

Sementara di tingkat daerah, pengelolaan kawasan konservasi menjadi bagian yang dianggap tidak penting dan tidak diperhatikan, karena saat ini dipandang bahwa kawasan konservasi merupakan wewenang pemerintah pusat. Namun untuk kawasan hutan lindung dan hutan wisata, yang merupakan wewenang pemerintah daerah, mulai terlihat adanya perhatian pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan. Pola pengelolaan yang digunakan juga tidak berbeda dengan pola pengelolaan kawasan konservasi, dimana di dalam kawasan hutan, tidak dibenarkan rakyat berada di dalam kawasan.

Sebagian besar kawasan konservasi di Indonesia saat ini tengah mengalami desakan kuat ke arah kerusakan yang menjadikan kawasan konservasi sebagai jarahan dari penebangan hutan tak terkendali, terutama ketika otonomi daerah dimulai. Hal ini diakibatkan oleh tidak terlibatnya masyarakat sekitar hutan dalam mengelola hutan dan di masa lalu sebagian rakyat yang tinggal di kawasan konservasi justru dikeluarkan dari kawasan kelola mereka.

WALHI mencatat bahwa hingga tahun 2003 telah terjadi beberapa pengusiran rakyat dari kawasan konservasi di Indonesia, diantaranya di TN Lore Lindu, TN Kutai, TN Meru Betiri, TN Komodo, TN Rawa Aopa Watumoi, TN Taka Bonerate, TN Kerinci Seblat dan beberapa kawasan lainnya. Bahkan di TN Komodo, masyarakat nelayan hingga saat ini dilarang melakukan aktivitas penangkapan ikan di kawasan tangkap tradisional mereka yang diklaim sepihak sebagai zona inti taman nasional.

Beberapa kasus yang terjadi di kawasan konservasi antara lain adalah pembangunan jalan di Kawasan Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Gunung Leuser, pengusiran dan penembakan nelayan di Taman Nasional Komodo, Operasi Napoleon di Taman Nasional Wakatobi, pengusiran masyarakat Dongi-dongi di Taman Nasional Lore Lindu dan pengusiran rakyat Moronene di Taman Nasional Rawa Aopa Watomohai.

Conflict zone Mountain Gorillas viewed by rangers for first time in more than a year

23 Dec 2008
From http://www.panda.org/

© WWF-Canon / Martin HARVEY

Eastern DRC – Mountain gorillas in the Democratic Republic of Congo (DRC) have been seen by park rangers for the first time since the rangers were forced out of areas of Virunga National Park by Laurent Nkunda’s army 15 months ago.

Virunga National Park director, Emmanuel de Merode, successfully negotiated with Nkunda and got confirmation that Institut Congolais pour la Conservation de la Nature (ICCN) would be allowed to reenter and work in the southern part of the park.

ICCN, the government institution in charge of protected areas management, park rangers and their families were forced out of the park when rebel leader Nkunda and his army took control of several parts of the park including the areas where mountain gorillas are found in September 2007. Since that time, no one outside of Nkunda’s army has been allowed to monitor the gorillas.

“We were very worried about the mountain gorillas as we had not any contact with them for over a year but ICCN rangers have already seen many of the mountain gorilla families and we are happy to report that most of them seem to be doing well,” said de Merode. “We are continuing our census of the gorillas and are reinstating our antipoaching operations.”

© Kate Holt / WWF-UK

In spite of this good news in the southern part of the park, the central and eastern sectors of the park remain very unsafe. Over half of ICCN’s staff and their families who work in Virunga National Park (over 2000 people) are now living at IDP (Internally Displaced Persons) sites outside of the park because of fighting between Nkunda’s army and the Congolese army.

The conflict in the Congo has forced thousands of people to flee their homes and there are now an estimated 145,000 IDPs scattered in 6 sites just outside of the national park. The people living in these sites are in desperate need of food, shelter and fuelwood.

WWF has been focusing its efforts in the area on the humanitarian crisis caused by the conflict and is distributing fuelwood from sustainable tree plantations to people living in IDP sites. WWF has also been passing out improved cooking stoves, which use half the amount of wood as a normal stove.

“WWF believes that the needs of people displaced by the fighting and the gorillas are inextricably linked—we are providing displaced people with the basic resources they need for shelter and cooking, while at the same time protecting Virugna National Park’s forests, which are already heavily damaged by illegal logging for wood and charcoal,” said Dr. Susan Lieberman, Director of WWF International’s Species Programme. “We hope that a normal life can quickly be restored for local communities living near and benefiting from the park and its gorillas.”

Virunga National Park was created in 1925 as Africa's first protected area and is located in the eastern part of the Democratic Republic of Congo, bordering Rwanda and Uganda. Despite its protected status, encroachment for farming and settlement, as well as by warring rebel factions, is leading to uncontrolled exploitation of its forests.

Earth Hour

From http://en.wikipedia.org/

Earth Hour is an annual international event created by WWF (The World Wide Fund for Nature/World Wildlife Fund), held on the last Saturday of March, that asks households and businesses to turn off their non-essential lights and electrical appliances for one hour to raise awareness towards the need to take action on climate change. It was pioneered by WWF Australia and the Sydney Morning Herald in 2007, and achieved worldwide participation in 2008.

Earth Hour will next take place on Saturday, March 28 2009 at 8:30pm, local time.

With 35 cities around the world participating as official flagship cities and over 400 cities also supporting, Earth Hour 2008 was a major success, celebrated on all seven continents. Iconic landmarks all around the world turned off their non-essential lighting for Earth Hour which included the Empire State Building (New York City), Sears Tower (Chicago), Golden Gate Bridge (San Francisco), Bank of America Plaza (Atlanta), Sydney Opera House (Sydney, Australia), Wat Arun Buddhist Temple (Bangkok, Thailand), the Colosseum (Rome, Italy), Royal Castle (Stockholm, Sweden), London's City Hall (England), Space Needle (Seattle), and the CN Tower (Toronto, Canada).

The official website for the event, earthhour.org, received over 6.7 million unique visitors in the week leading up to Earth Hour. Other websites took part in the event, with Google's homepage going "dark" on the day Earth Hour took place.

According to a Zogby International online survey 36 million people participated in Earth Hour 2008, with an estimated 50 million doing the same around the world. The survey also showed there was a 4 percentage point increase in awareness of environmental issues such as climate change, directly after the event.

Ikut Facebook

Apa itu Face book? Penjelasannya ada di bawah:


Company Overview:
Facebook gives people the power to share and makes the world more open and connected.
Millions of people use Facebook everyday to keep up with friends, upload an unlimited number of photos, share links and videos, and learn more about the people they meet.

Kenapa ikut Facebook?
Waktu Barack Obama mencalonkan diri jadi Presiden Amerikan, salah satu media promosi-nya adalah dengan masuk semacam jaringan dunia pertemanan semacam ini. Ya semoga saja, blog ini bisa ngikut keberhasilan Barack Obama.. Amin..

Pasang MyBlogLog di Blog ini

Ah terlambat banget sebenarnya untuk pasang widget ini, harusnya dari awal pembuatan blog harus sudah dipasang.. Sebenarnya alasannya klasik, "Lupa"..

Ya, lupa.. benaran lupa, kata teman saya begini: "Klo ga lupa itu, malaikat nama-nya, bukan manusia"..

Tapi sebenarnya ada hal-hal yang sebenarnya ga boleh di lupakan dalam hidup ini.. Setuju ga?

WWF-Indonesia dan Departemen Kebudayaan & Pariwisata Sepakat untuk Mengembangkan Ekowisata di Heart of Borneo

05 November 2008
From http://wwf.or.id/

© WWF-Indonesia/Israr ARDIANSYAH

WWF-Indonesia dan Departemen Kebudayaan & Pariwisata membangun kerja sama untuk mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Heart of Borneo selama 5 tahun, mulai 2008 hingga 2013. Inisiatif kerja sama ini didokumentasikan dalam Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh kedua pihak di Manado pada tanggal 1 November 2008. Ini bertepatan dengan Konferensi Ekowisata Berbasis Masyarakat yang diadakan oleh BIMP-EAGA (Brunei Indonesia Malaysia Philippines – East Asia Growth Area) Tourism Council di Manado.

Pengembangan ekowisata merupakan salah satu dari lima program kolaboratif tiga negara yang mengusung inisiatif Heart of Borneo. Kerja sama antara WWF-Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata merupakan pengejawantahan kerangka program internasional ini ke dalam aksi kongkrit yang memastikan konservasi Heart of Borneo memberikan keuntungan ekonomi terutama bagi masyarakat lokal di tiga provinsi yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah serta di sepanjang garis perbatasan Indonesia-Malaysia.

Dalam Konferensi Ekowisata tersebut, dan melalui interaksi media dan pameran, promosi ekowisata di kawasan Heart of Borneo dan Coral Triangle tersampaikan kepada peserta konferensi dan para pengunjung mulai dari 30-31 Oktober 2008.

Ikut Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, bukan sekedar ikut kompetisi saja..

Mengikuti Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 sebenarnya bukan hanya sekedar ikut-ikutan, sebenarnya website/blog yang kita buat juga bermanfaat bagi para pembaca dan bisa menyadarkan mereka akan bahaya pemanasan global yang terjadi saat ini..

Setidaknya kita bisa mengajak para pembaca untuk menjadi sahabat bumi ini, tentutanya kita harus memulainya dari diri kita sendiri..

Klo misalnya teman-teman tidak menang di Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 ini, tidak masalah, tapi setidaknya kita udah punya niat baik untuk ikut mengajak orang lain untuk menjadi sahabat bumi ini dengan tulisan yang kita buat di website/blog kita.

Dimulai dari hal-hal kecil, mungkin akan bermanfaat untuk menjaga bumi ini, ya..salah satunya dengan mengikuti Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 ini..

Jeda Penebangan Hutan

Sumber http://www.walhi.or.id/

Indonesia adalah pemilik 126,8 juta hektar hutan. Hutan seluas ini merupakan tempat tinggal dan pendukung kehidupan 46 juta penduduk lingkar hutan. Namun, saat ini, hutan kita berada dalam kondisi kritis. Laju perusakan hutan di Indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun. Artinya, tiap tahun kita kehilangan areal hutan kurang lebih seluas Pulau Bali. Kerusakan hutan kita dipicu oleh tingginya permintaan pasar dunia terhadap kayu, meluasnya konversi hutan menjadi perkebunan sawit, korupsi dan tidak ada pengakuan terhadap hak rakyat dalam pengelolaan hutan.

Hilangnya hutan dan bencana
Sebenarnya, hutan Indonesia hanya mampu memasok 46,77 juta meter kubik kayu bulat tiap tahunnya. Sayangnya, hal ini tak dipahami secara baik oleh pelaku industri kehutanan. Mereka terus saja menambah kapasitasnya tanpa memperhatikan kemampuan alam. Kapasitas industri kayu Indonesia mencapai 96,19 juta meter kubik, dua kali lipat kemampuan hutan Indonesia. Maraknya pembalakan liar adalah akibat dari ketimpangan permintaan dan ketersediaan kayu yang semakin meluluhlantakkan hutan kita. Tercatat total kayu ilegal untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri mencapai 30,18 juta meter kubik, yang telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rp. 36,22 triliun pada tahun 2006.

Ilmuwan di berbagai belahan dunia telah membuktikan hubungan langsung antara kerusakan hutan dengan bencana banjir dan longsor, konflik dengan masyarakat, hilangnya keanekaragaman hayati, timbulnya kebakaran hutan dan juga sebagai salah satu faktor pemicu perubahan iklim global.

Pada tahun 2006 saja, terjadi 59 kali bencana banjir dan longsor yang memakan korban jiwa 1.250 orang, merusak 36 ribu rumah dan menggagalkan panen di 136 ribu hektar lahan pertanian. WALHI mencatat kerugian langsung dan tak langsung yang ditimbulkan dari banjir dan longsor rata-rata sebesar Rp. 20,57 triliun setiap tahunnya, atau setara dengan 2,94% dari APBN 2006!

Keuntungan jeda penebangan [moratorium logging]:

* Menahan laju kehancuran hutan tropis di Indonesia;
* Dapat memonitor dan penyergapan penebangan liar;
* Kesempatan menata industri kehutanan;
* Mengatur hak tenurial sumber daya hutan;
* Meningkatkan hasil sumber daya hutan non-kayu;
* Mengkoreksi distorsi pasar kayu domestik;
* Restrukturisasi dan rasionalisasi industri olah kayu
* Mengkoreksi over kapasitas industri
* Memaksa industri meningkatkan efisiensi pemakaian bahan baku dan membangun hutan-hutan tanamannya.

Kerugian bila jeda penebangan [moratorium logging] tidak dilakukan:

* Tidak dapat memonitor kegiatan penebangan haram secara efektif;
* Distorsi pasar tidak dapat diperbaiki dan pemborosan kayu bulat akan terus terjadi;
* Tidak ada paksaan bagi industri meningkatkan efisiensi, menunda pembangunan hutan-hutan tanaman dan terus semakin jauh menghancurkan hutan alam;
* Defisit industri kehutanan sebesar US$ 2,5 milyar per tahun dari penebangan liar tidak bisa dihentikan;
* Hutan di Sumatra akan habis paling lama dalam 5 tahun, dan hutan Kalimantan akan habis paling dalam waktu 10 tahun;
* Kehilangan devisa sebesar US$ 7 milyar dan ratusan ribu pekerja kehilangan pekerjaannya.

Jeda pembalakan kayu [moratorium logging] hanyalah proses, bukan tujuan akhir. Moratorium menawarkan kemungkinan-kemungkinan pelaksanaan seluruh rencana reformasi dan pelaksanaan komitmen pemerintah di sektor kehutanan. Moratorium juga menjadi langkah awal bagi pelaksanaan seluruh reformasi tersebut. Langkah-langkah moratorium dapat dilakukan selama dua hingga tiga tahun dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

Tahap I: Penghentian pengeluaran ijin-ijin baru
Moratorium atau penghentian pemberian atau perpanjangan ijin-ijin baru HPH, IPK, perkebunan, sambil menghentikan keran ekspor kayu bulat serta mengeluarkan kebijakan impor bagi industri olah kayu. Dalam tahap ini, perlu pula dilakukan penundaan pelaksanaan wewenang untuk pemberian ijin HPH dan IPHH (seluas <1000 style="font-weight: bold;">Tahap II: Pelaksanaan uji menyeluruh kinerja industri kehutanan
Dalam waktu 2 bulan setelah moratorium dilaksanakan, penghentian ijin HPH bermasalah terutama yang memiliki kredit macet yang sedang ditangani oleh BPPN. Utang harus dibayar kembali oleh pemilik dan penegakan hukum dilakukan bagi industri-industri yang bermasalah. Pada tahap ini penilaian asset industri-industri bermasalah harus dilaksanakan melalui due diligence secara independen oleh pihak ketiga.

Tahap III: Penyelamatan hutan-hutan yang paling terancam
Dalam waktu 6 bulan, pemerintah harus menghentikan seluruh penebangan kayu di Sumatra dan Sulawesi, kedua pulau ini hutannya sangat terancam. Penataan kembali wilayah hutan di Sumatra dan Sulawesi serta penanganan masalah sosial akibat moratorium logging dengan mempekerjakan kembali para pekerja pada proyek-proyek penanaman pohon dan pengawasan hutan, seperti yang terjadi di Cina.

Tahap IV: Penghentian sementara seluruh penebangan hutan dan penyelesaian masalah-masalah potensi sosial
Dalam waktu satu tahun moratorium pembalakan kayu dilaksanakan, pemerintah dapat menghentikan seluruh kegiatan penebangan kayu di Kalimantan dan penanganan masalah sosial yang muncul sejauh ini dan selama masa moratorium dilaksanakan melalui sebuah kebijakan nasional.

Tahap V: Larangan sementara penebangan hutan di seluruh Indonesia
Dalam waktu 2-3 tahun: penghentian seluruh penebangan kayu di hutan alam untuk jangka waktu yang ditentukan di seluruh Indonesia. Pada masa ini, penebangan kayu hanya diijinkan di hutan-hutan tanaman atau hutan yang dikelola berbasiskan masyarakat lokal.

Selama moratorium dijalankan, industri-industri kayu tetap dapat jalan dengan cara mengimpor bahan baku kayu. Dengan melanjutkan penggunaan bahan baku kayu dari dalam negeri, pada dasarnya kita sama saja dengan melakukan bunuh diri. Untuk memudahkan pengawasan tersebut, maka jenis kayu yang diimpor haruslah berbeda dengan jenis kayu yang ada di Indonesia.

Keterima di Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3

Wah.. Senang banget keterima di Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, ya mudah-mudahan sih menang.. Amin..

Kenaikan permukaan laut

Sumber Wikipedia.Org

Kenaikan permukaan laut (Bahasa Inggris: sea level rise) adalah fenomena naiknya permukaan laut yang disebabkan oleh banyak faktor yang kompleks.

Permukaan laut telah mengalami kenaikan setinggi 120 meter sejak puncak zaman es 18.000 tahun yang lalu. Kenaikan tertinggi muka air laut terjadi sebelum 6.000 tahun yang lalu. Sejak 3.000 tahun yang lalu hingga awal abad ke-19, muka air laut hampir tetap hanya bertambah 0,1 hingga 0,2 mm/tahun; sejak tahun 1900, permukaan laut naik 1 hingga 3 mm/tahun; sejak tahun 1992 satelit altimetri TOPEX/Poseidon mengindikasikan laju kenaikan muka laut sebesar 3 mm/tahun. Perubahan ini bisa jadi merupakan pertanda awal dari efek pemanasan global terhadap kenaikan muka air laut. Pemanasan global diperkirakan memberikan pengaruh yang signifikan pada kenaikan muka air laut di abad ke-20 ini.

Perubahan Iklim dan Pemiskinan Global

Sumber: WALHI

Peran masyarakat sipil makin kentara di muka bumi. Lewat perannya, pelbagai pemerintahan negara terus berkomitmen dan bertindak nyata mereduksi dampak perubahan iklim. Seperti diungkap oleh Ben dari GCAP International dalam National Workshop on Poverty, Environment, and Climate Change di Bale 2 Kampung CSF, Selasa pagi (4/12), “Cukup menarik mengamati perkembangan gerakan masyarakat sipil di Australia. Terlebih, dengan diturunkannya John Howard, perdana menteri yang tak peduli lingkungan dan enggan meratifikasi Protokol Kyoto.”

Dalam bahasan ini, hadir sebagai pembicara adalah Ben (Global Call to Action Against Poverty International), Titi Hartini (GCAP Indonesia), Wahyu (International NGO Forum on Indonesian Development), dan Fabby Tumiwa (Institute for Essential Service Reform), yang juga merupakan salah satu perwakilan delegasi Republik Indonesia dalam COP 13. Mereka menyorot tentang kaitan antara masalah-masalah lingkungan dan kemiskinan akibat dari perubahan iklim global.

Ben dari GCAP Internasional menekankan bahwa gerakan sipil harus menyuarakan permasalahan-permasalahan mengenai kemiskinan dan kerusakan lingkungan agar tidak dikesampingkan oleh pemerintah. Selain itu, masyarakat sipil juga harus mendorong perubahan kebijakan di tingkat internasional, karena perekonomian masyarakat dunia telah terintegrasi sehingga perlu ada gerakan sosial untuk perubahan kebijakan di PBB, IMF, dan World Bank. Perubahan inilah yang sekarang ini tengah dirintis GCAP. Mengenai banyaknya bencana alam yang sering terjadi beberapa tahun terakhir ini, ia mengatakan bahwa yang terjadi bukanlah bencana alam yang ‘alami’ tetapi bencana alam itu terjadi akibat perubahan iklim global hasil dari perbuatan manusia itu sendiri.

Wahyu Susilo membeberkan mengenai Human Development Report yang menegaskan bahwa perkembangan kehidupan manusia sangat terpengaruh oleh adanya perubahan iklim. UNFCCC ini harus dijadikan momentum untuk menegaskan bahwa perubahan iklim memiliki kontribusi besar dalam peningkatan kemiskinan, sehingga hal ini menjadi perhatian dari panel UNFCC dan negosiasi tidak hanya sekadar membahas jual-beli karbon.

Sementara itu, Fabby Tumiwa menyoroti masalah program adaptasi terhadap dampak perubahan iklim global. Masalah yang timbul adalah ketika orang-orang miskin tidak memiliki kapasitas adaptif (adaptive capacity) terhadap dampak buruk perubahan iklim. Jika demikian, mereka pun rentan jatuh pada jurang terdalam kemiskinan. Olehnya, NGO/CSO (Civil Society Organization) memiliki peran teramat penting, Hal ini didasarkan pada keahlian NGO/CSO ketimbang pemerintah menyangkut isu perubahan iklim.

Konsep adaptasi yang dilontarkan oleh Fabby Tumiwa ini mendapatkan tentangan dari salah satu peserta pelatihan. Menurut Teuku Masrizal dari WALHI Aceh, selain program adaptasi harus ada juga usaha-usaha preventif untuk mencegah lebih parahnya pemanasan global. Selain itu, konsep program adaptasi mengesankan bahwa kita sebagai korban perubahan iklim hanya bisa menerima dampak-dampak negatif perubahan iklim tanpa berusaha untuk menata hidup lebih arif secara ekologis.

Urutan berapa blog mu dengan Kata kunci: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3?

Cobalah teman-teman tanya ke paman google tentang: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3. Lihat! Urutan berapa blog teman-teman?

Ah, memang susah bersaing untuk mendapatkan posisi 10 besar di paman google.. Tapi tunggu dulu, saya ingin menceritakan pengalaman saya bertanya ke paman google tentang kata kunci Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 ini.

Awalnya saya sempat putus asa untuk mendapatkan peringkat 10 atau 20 besar di paman google. Saya bertanya pada paman google yang tinggal di indonesia, dia bilang blog saya urutan 41, ah sedih sekali mendengarnya. Setelah itu saya telpon paman google yang tinggal di Amerika, eh dia jawab klo blog saya urutan 12, wah senang banget..

Tapi sebenarnya, urutan itu bisa berubah ubah setiap waktunya, tergantng paman google sendiri.. O ia, bagi teman-teman yang ikut Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 ini tetap semangat oke..

Pemanasan Global Picu Ledakan Evolusi

Selasa, 09 Januari 2007 14:50
From http://www.kapanlagi.com/

Kapanlagi.com - Pemanasan global memaksa makluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Peneliti di Amerika Serikat melaporkan telah menemukan beberapa tumbuhan telah melakukan evolusi sebagai langkah penyesuaian diri terhadap pemanasan global.

Rumput yang tumbuh cepat telah berevolusi selama beberapa generasi guna menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. ‘’Kondisi yang dapat menandakan awal ledakan evolusi sebagai reaksi atas pemanasan global,’’ kata beberapa ilmuwan, Senin.

’’Itu berarti rumput tersebut akan mengimbangi upaya mengembangkan tanaman yang dapat menyesuaikan diri dengan pemanasan global, ‘’kata Arthur Weis, profesor ekologi dan biologi evolusioner di University of California, Irvine.

Sebagian spesies berumur panjang --seperti pohon khas California yang memiliki usia ratusan tahun-- takkan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cepat, karena lingkaran hidup mereka sangat lama.

Tanaman yang tumbuh cepat yang dikenal dengan mostar lapangan memperlihatkan kemampuan untuk mengubah pola reproduksi selama kurun waktu tujuh tahun, kata Weis.

Weis dan rekannya mengolah dua set bibit mostar di satu rumah kaca. Satu set dikumpulkan pada 1997. Kedua dikumpulkan pada 2004, setelah musim kemarau berakhir.

Tanaman itu dibagi jadi tiga kelompok, dan masing-masing diberikan sejumlah air, mulai kering-kemarau sampai lembab. Dalam setiap kasus, generasi tanaman pasca-kemarau berbunga lebih dulu, yang berarti tanaman tersebut dapat menghasilkan benih sebelum tanah kekeringan. Tanaman yang berbunga belakangan akan layu sebelum benih dihasilkan pada tahun kemarau.


Seberapa cepat perubahan terjadi, pada jadwal evolusi? Weis memperkirakan bahwa itu mewakili 16 % percepatan lingkaran hidup tanaman mostar selama tujuh generasi.

Itu adalah perubahan yang cukup besar dalam usia kematangan," katanya.

Ketika diminta untuk membuat perbandingan perkiraan kondisi itu dengan perubahan evolusi pada manusia, Weis mengajukan apa yang is sebut analogi yang sangat kasar: jika manusia berevolusi pada tingkat yang sama dengan tanaman mostar dalam percobaan, rata-rata permulaan usia reproduksi pada manusia akan turun dari 16 tahun jadi 13,5 tahun dalam tujuh generasi.

Weis memelopori suatu proyek untuk mengumpulkan, mengeringkan dan membekukan benih dari seluruh Amerika Utara sehingga mereka dapat dipelajari 50 tahun dari sekarang.

Ia memperkirakan pemanasan global akan memicu banyak perubahan evolusi dan ilmuwan nantinya harus memiliki bukti tanaman sebelum perubahan terjadi. Upaya tersebut disebut "Project Baseline".

"Jika perubahan cuaca global terjadi, dan itu memang sedang berlangsung, kita memiliki percobaan tak terencana yang sangat besar ini dalam biologi evolusioner yang kita hadapi," kata Weis. "Perubahan iklim dapat membawa kepada ledakan evolusi ... Ini memberi ilmuwan peluang yang tak ada sebelumnya untuk memperhatikan rasa suka yang luar biasa pada perubahan evolusioner."

Gagasannya ialah agar ilmuwan pada pertengahan Abad 21 akan kembai ke beberapa lokasi tempat tanaman akan dikumpulkan dan memperhatikan perbedaan antara tanaman tersebut dari masa yang berbeda.

Penelitian oleh Weis dan timnya disiarkan dalam jurnal "Proceedings of the National Academy of Sciences". (*/rsd)

Satu Miliar Kehilangan Tempat Tinggal Pada 2050 Akibat Pemanasan Global

Senin, 14 Mei 2007 17:29
From http://www.kapanlagi.com/

Kapanlagi.com - Sedikitnya satu miliar orang menghadapi resiko kehilangan tempat tinggal mereka selama empat dasawarsa mendatang akibat konflik dan bencana alam yang akan bertambah parah dengan pemanasan global, demikian peringatan satu badan bantuan Senin.

Dalam satu laporan, Christian Aid, yang berpusat di Inggris, menyatakan negara di seluruh dunia, terutama negara paling miskin, sekarang menghadapi perpindahan penduduk terbesar karena terpaksa --kondisi yang akan membuat pengungsian akibat Perang Dunia II jadi tak berarti.

Dalam apa yang saat itu menjadi "pengungsian penduduk terbesar dalam sejarah modern", katanya, 66 juta orang kehilangan tempat tinggal di seluruh Eropa sampai Mei 1945, selain beberapa juta orang lagi di China.

Kini, sebanyak 163 juta orang di seluruh dunia telah kehilangan tempat tinggal akibat berbagai faktor seperti konflik, kemarau dan banjir serta proyek pembangunan ekonomi seperti bendungan, pembalakan dan perkebunan gandum, katanya.

"Kami percaya bahwa migrasi terpaksa sekarang menjadi ancaman paling mendesak yang dihadapi rakyat miskin di dunia berkembang," kata John Davison, penulis "Human Tide: the real migration crisis".

Meskipun jumlah tersebut sudah "sangat tinggi", laporan tersebut memperingatkan bahwa "pada masa depan, perubahan iklim akan mendorongnya jadi lebih banyak lagi".

"Kami memperkirakan bahwa selama beberapa tahun antara sekarang dan 2050, sebanyak satu miliar orang akan kehilangan tempat tinggal mereka", demikian antara lain isi laporan setebal 52 halaman itu.

Jumlah tersebut meliputi 645 juta orang yang bermigrasi akibat proyek pembangunan, dan 250 juta orang karena fenomena seperti pemanasan global seperti banjir, kemarau dan kelaparan, katanya.

Konflik di wilayah Darfur, Sudan barat, yang telah membuat lebih dari dua juta orang kehilangan tempat tinggal, katanya, bukan hanya dipicu oleh kekuatan politik tapi juga disebabkan oleh persaingan untuk memperoleh lahan untuk menggembalakan ternak serta air, yang kian langka.

"Para ahli keamanan khawatir bahwa migrasi baru ini akan menyulut konflik yang tak pernah terjadi sebelumnya dan memicu masalah baru di berbagai daerah di dunia --terutama di negara paling miskin-- tempat sumber daya alam paling langka," kata satu pernyataan yang menyertai laporan itu.

"Satu dunia dengan banyak Darfur kian menjadi mimpi buruk," katanya.

Masalahnya makin mengkhawatirkan sementara mereka yang kehilangan tempat tinggal di negara mereka sendiri tak memiliki hak berdasarkan hukum internasional dan tak mempunyai suara resmi, katanya.

Laporan tersebut juga mengutip kajian kasus di Kolombia, Mali dan Myanmar, yang dulu bernama Burma, sebagai kasus utama keprihatinan.

Sementara jutaan orang telah menyelamatkan diri dari perang saudara antara kelompok paramiliter dan gerilyawan dalam 20 tahun terakhir, katanya, rakyat Kolombia sekarang menyaksikan banyak lahan diambil oleh anggota paramiliter yang berubah jadi pengusaha dan membuat kebun kelapa sawit serta kebun lain.

Di Myanmar, katanya, kelompok etnik minoritas seperti Karen telah menderita akibat beberapa dasawarsa kerusuhan, pengungsian dan penghukuman hanya untuk menyaksikan penguasa militer sekarang menggunakan lahan yang dibersihkan untuk membuat bendungan, pembalakan dan kebun kelapa sawit.

Perubahan cuaca, katanya, akan mendorong pertumbuhan perkebunan penghasil gandum sementara negara kaya meningkatkan permintaan akan bahan bakar bio dalam upaya mengurangi buangan karbon dioksida ke atmosfir.

"Di Mali, ancaman akibat perubahan iklim lebih membayang lagi," katanya.

Hasil pertanian telah merosot tajam sementara curah hujan berkurang dan tak beraturan, sehingga petani terpaksa meninggalkan lahan mereka agar mereka dapat menghidupi keluarga mereka.

Christian Aid, yang dibentuk untuk membantu pengungsi akibat Perang Dunia II, menyiarkan laporan tersebut untuk memperingati 50 tahun pengumpulan dana dari rumah-ke-rumah di Inggris.

Badan itu berharap dapat mengumpulkan 15,5 juta poundsterling (22,72 juta euro, atau US$30,7 juta). (*/cax)

Perubahan Iklim Indonesia, Efek Dari Pemanasan Global

Sabtu, 30 Juni 2007 18:23
From http://www.kapanlagi.com/

Kapanlagi.com - Indonesia mulai merasakan dampak pemanasan global (global warming), yang dibuktikan dari berbagai perubahan iklim maupun bencana alam yang terjadi.

"Sudah banyak ditemukan dampak pemanasan global di Indonesia," kata koordinator kampanye bidang iklim dan energi World Wild Fund (WWF) Indonesia, Verena Puspawardhani, di Banda Aceh, Sabtu (30/6).

Dampak pemanasan global itu diantaranya, terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan.

Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flaura dan fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan karang seluas 30% atau sebanyak 90-95% karang mati di Kepulauan Seribu akibat naiknya suhu air laut.

"Pemanasan global juga memicu meningkatnya kasus penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. setiap tahunnya di Indonesia semakin banyak pasien penderita penyakit ini," katanya.

Selain itu, penelitian dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyebutkan, Februari 2007 merupakan periode dengan intensitas curah hujan tertinggi selama 30 tahun terakhir di Indonesia. Hal ini menandakan perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global.

Indonesia yang terletak di equator merupakan negara yang pertama sekali akan merasakan dampak perubahan iklim. Dampak tersebut telah dirasakan yaitu pada 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya.

Diperkirakan pada 2070 sekitar 800 ribu rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut.

Perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global telah menjadi isu besar di dunia. Mencairnya es kutub utara dan kutub selatan yang akan menyebabkan kepunahan habitat di sana merupakan bukti dari pemanasan global.

Pemanasan global disebabkan kegiatan manusia yang mengasilkan emisi gas rumah kaca dari industri, kendaraan bermotor, pembangkit listrik bahkan menggunaan listrik berlebihan.

"Karena itu yang harus dilakukan untuk mengatasi ancaman pemanasan globala adalah melakukan penghematan energi listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan dan pembakaran hutan," katanya.

Ditambahkannya, pemerintah harus didesak untuk menggunakan energi terbarukan seperti matahari, air dan angin yang lebih ramah lingkungan. (*/bun)

Antara Kompetisi SEO dan Kompetisi website kompas muda-im3

Saya melihat Kompetisi website kompas muda-im3 lebih ke arah Kompetisi SEO, karena ada satu syarat yang harus teman-teman penuhi ketika ingin mengikuti kompetisi ini yaitu: (Saya langsung kutip dari pernyataa panitia kompetisi)

Cara yang akan digunakan adalah dengan mengetikkan kata kunci : Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3. Nah,. di Google nanti akan muncul web-web peserta lomba. Karena itu, kata kunci ”Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3” ini harus ada di halaman web kamu.
Peringkat yang bagus akan ikut menentukan nilai web kamu. Salah satu pesan yang ingin disampaikan MuDA adalah: kamu boleh saja buat tulisan bagus dan desain yang hebat, tapi kalau tak terindeks oleh Google atau tak punya popularitas di mesin pencari, ya percuma saja kawan.

2008, Global Warming Membunuh 200 Ribu Orang

Selasa, 30 Desember 2008 - 11:59
Susetyo Dwi Prihadi
From Okezone.Com

BERLIN - Global Warming nampaknya menjadi ancaman serius bagi kehidupan umat manusia. Tercatat sepanjang tahun 2008, sebanyak 220 ribu orang meregang nyawa akibat bencana alam.

Meski ini lebih rendah dari tahun 2007, sebaiknya manusia harus memberi perhatian khusus terhadap perubahan iklim yang ekstrim ini. Sebab, menurut penelitian yang dilakukan Trosten Jeworrek, jumlah korban dan kerugian harta benda menjadi acuan bahwa bencana alam akibat global warming bukan main-main.

"Kami telah mengamati tren peningkatan dari tahun ke tahun. Perubahan iklim telah dimulai dan sangat mungkin kontribusinya semakin sering membuat cuaca ekstrim, yang berakhir pada bencana alam," kata Munich Re anggota Trosten Jeworrek, seperti yang dilansir Reuters, Selasa (30/12/2008).

Yang terparah dalam catatan Trosten Jeworrek, adalah angin topan Nargis yang menghantam Myanmar pada awal Mei silam. Akibat bencana itu, tidak kurang 135 ribu jiwa melayang, belum termasuk 1 juta orang kehilangan rumah.

Selanjutnya, sebanyak 70 ribu orang tewas dan 18 ribu hilang, akibat gempa bumi yang melanda Provinsi Sichuan, China. Tidak itu saja, 5 juta orang kehilangan harta bendanya. Pada tahun yang sama, Negeri Tirai Bambu ini juga diserang angin taifun Fengseng, yang menyebabkan 557 orang tewas.

Sekitar 1.000 orang meninggal di musim dingin yang parah pada Januari di Afghanistan, Kyrgystan, dan Tajikistan, sementara 635 orang binasa pada bulan Agustus dan September dalam banjir di India, Nepal, dan Bangladesh.

Ini peringatan dini buat manusia, agar tidak menyepelekan lagi global warming, karena terbukti krisis ini membuat bencana alam yang tidak sedikit menelan korban jiwa.

"Dunia memerlukan aturan mengani kontrol CO2 dan emisi gas yang efektif. Agar kita bisa mengontrol alam dengan baik," tandas Munich Re. (jri)