
JAKARTA, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengungkap urutan kejadian pengancaman yang berlangsung di kantor KontraS.
Hal itu dikemukakan oleh Usman Hamid selama diskusi Sapa Indonesia Pagi. Kompas TV, Senin (17/3/2025).
"Sekira pada pertengahan malam, pukul 00.15 WIB dan beberapa menit sebelumnya, tepat sebelum tengah malam, terdapat deruman panggilan telepon yang masuk ke nomor Bung Andri Yunus dari kontraS serta nomor lain tanpa jelas maksud dan tujuannya," kata Usman.
“Setelah dilacak, ada clue - clue Yang mengindikasikan hubungannya dengan Kodam Jaya di Jakarta yakni pada Detasemen Intelijen, beberapa temuan kami pun mencatat nama tersebut, seperti contohnya, mungkin, Topan Timur," tambahnya.
Selanjutnya sekitar pukul 02.00 pagi, Usman menyebut ada tiga individu yang berusaha memasuki Kantor KontraS dan mereka mengklaim berasal dari kalangan pers.
"Baru pertama kalinya dalam pengalaman kami, ada media massa yang menginginkan wawancara atau datang ke kantor pada pukul dua dini hari. Terutama ketika kita memiliki sistem komunikasi yang cukup maju dan seharusnya mereka meminta janji terlebih dahulu melalui WhatsApp, kecuali jika ada insiden darurat di kantor kontras; malam tersebut tak ada hal istimewa," ungkap Usman.
Usman menceritakan bahwa kemudian pada hari itu sendiri, beberapa individu kembali ke Kantor KontraS pada pukul 04.00 WIB, dilanjuti dengan jam 06.00 WIB, serta 07.00 WIB. Keadaan ini, sesuai penjelasan Usman, pastinya menciptakan rasa takut dan khawatir akibar terlihat seperti ancaman atau intimidasi.
"Pada waktu yang sama di depan Hotel Fairmont, tempat di mana sidang pansus tersebut dilangsungkan, beberapa kendaraan yang dapat kita amati ternyata berafiliasi dengan unit operasional khusus militer, yaitu Koopsus," jelas Usman.
Berdasarkan pendapat Usman, penempatan pasukan khusus di dekat Hotel Fairmont kurang sesuai apabila dilihat dari maksud pembentukannya.
"Koopsus tersebut merupakan unit elite yang didirikan pada tahun 2019 oleh Presiden dan Keputusan Panglima TNI guna mengidentifikasi berbagai ancaman serius seperti contohnya ancaman terhadap kedaulatan negeri, bahaya bagi kemananan seluruh rakyat, ataupun gangguan terhadap batas wilayah nasional," jelas dia.
Berikut ini penjelasan, Koopsus merupakan unit khusus yang melibatkan pasukan unggulan dari TNI AD, TNI AL, serta TNI AU.
Usman mengkritisi bagaimana kritik serta protesan dari masyarakat sipil tentang draf suatu undang-undang malah ditanggapi dengan tindakan militer.
"Lebih lanjut lagi dengan perintah operasi spesial, menurut pendapatku hal itu terlalu berlebihan," ujar Usman.
"Wajar saja jika para mitra dalam koalisi masyarakat sipil menempatkan hal tersebut sebagai perilaku yang mengintimidasi," katanya.